Blogger templates

Kamis, 04 Agustus 2016


Cermin Pasir
Karya : Triyanto Triwikromo

TAK ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru memekakkan telinga. Kadang-kadang ketika gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadang-kadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air. Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman, serupa mambang. Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Keheningan sehabis hujan. Sabetan-sabetan wayang Ki Dalang. Dan, celoteh anak-anak kala rembulan jatuh di genting atau di kesunyian tegalan.Baiklah, kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku penggoda, tetapi sebenarnya aku penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali yang tegak lurus dengan langit.1Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi.”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?” seseorang tiba-tiba mendesah.”Aku punya firasat buruk, berhentilah menggoda kami,” salah seorang penambang sepuh ikut-ikutan mendesis sambil melihat punggungku.”Malam nanti saya harus menari untuk Kiai Petruk. Izinkan saya berlatih barang sejenak. Setelah bertemu dengan Romo Sentanu dan Ayat, saya akan berhenti.””Malam nanti kami hanya slametan. Kami cuma berkumpul di gereja dan mensyukuri panen. Kami tak akan menari,” penambang sepuh mendesah lagi.”Tetapi Ayat dan Romo Sentanu meminta saya menari,” lenguhku sambil melakukan gerakan pacak gulu.Sejenak sunyi. Tak ada yang berani menghentikan tarianku. Ya, menyebut nama Kiai Petruk, Romo Sentanu, dan Ayat di desa itu sama saja dengan memanterakan kedigdayaan para dewa.Kiai Petruk, kau tahu, adalah kedahsyatan yang indah2. Kalau marah, dari mulutnya yang gaib ia bisa memuntahkan wedhus gembel. Tak perlu berbelit-belit, baiklah kubocorkan kepadamu: pada mulanya aku tak mau menggunakan ungkapan Kiai Petruk untuk menyebut Gunung Merapi. Namun, sejak menyusup ke desa ini aku terpaksa berurusan dengan segala pantangan dan eufimisme aneh terhadap gunung yang berkacak pinggang di pusat Pulau Jawa itu. Maka, aku pun menyebut awan panas yang bergulung-gulung dan menyemburkan debu-debu kejam itu sebagai wedhus gembel. Aku jadi sering menggumamkan kata-kata aneh saat kilau lahar meleleh ke lereng-lereng.Tentang Romo Sentanu: ah, dia hanyalah pastor desa. Aku terpaksa berurusan dengan pria santun itu karena dia terlalu mencampuri urusan para pengusaha penambang pasir dengan penduduk. Dia malah kerap berperan sebagai penggerak demonstrasi ketimbang sebagai paderi. Dan, salah satu tugasku ke desa ini, kau tahu, adalah penggoda. Kalau perlu merontokkan namanya.Karena itu aku akan menari telanjang di kamarnya. Akan kurobohkan seluruh pemahaman dia tentang kerling mata perempuan, desah manja wanita sehabis senja, dan pagutan indah singa betina di leher pria kencana.Kadang-kadang saat suara-suara cenggeret dan garengpung membelah desa, aku sudah membayangkan para lelaki kekar berseragam, teman-temanku yang tak banyak cakap itu, membentangkan kedua tangan Romo di tubuh bukit, memaku kedua telapak tangan, dan menancapkan linggis ke lambungnya. Dan, selalu pada saat dia mengerang kesakitan, aku membuka seluruh pakaian dan menarikan tarian paling erotis dan menghunjamkan pemandangan menyiksa itu ke matanya yang telah dibutakan.Jadi, dia bukan lawan yang harus terlalu diperhitungkan. Kapan pun tangan-tangan kami yang perkasa bisa dengan mudah menghilangkan nyawa paderi yang santun itu.Ah, kau tentu telah mengenal Ayat lebih dari aku mengenal batu-batu, koral, lumut, dan keheningan desa ini. Kau tentu pernah melihat pria bersarung yang sering memainkan lakon Kunjarakarna itu untuk membeberkan kebusukan pengusaha penambangan pasir.Kau tentu sering melihat mulutnya yang nyinyir saat meledakkan kata-kata, ”Dewa ora adil! Dewa ora adil!”3 di hadapan orang-orang asing yang berkunjung ke desa itu.Ya, di mata dalang ceking itu dewa memang tidak adil. Dewa memakmurkan para pria kekar yang tak habis-habis menambang pasir dan tak pernah menggubris penderitaan petani-petani miskin. Dewa hanya memberi Kiai Petruk dan wedhus gembel, tetapi lupa membelai rambut para perempuan yang kehilangan suami saat lahar meluluhlantakkan desa.Dan kalau sudah mendalang, Ayat bisa berubah menjadi dewa. Dengan lembut dia bisa mengajak siapa pun melawan kesewenang-wenangan. Suatu hari ketika dia bilang, ”Mari menari semalam suntuk di sepanjang jalan!” orang-orang sedesa berjoget dari mulut desa hingga ke lereng Merapi.Keruan saja tak ada truk berani menembus kerumunan penari. Tak ada yang bersikeras melindas kepala anak-anak kecil yang sengaja menonton gerak indah para tetua kampung sambil tiduran di sepanjang jalan.Ayat juga mahir menari. Melihat Ayat menari, orang sedesa seperti berjumpa dengan Petruk yang ramah. Petruk yang tak pernah menghukum orang-orang sederhana dengan lahar, awan panas, dan hujan batu yang tak kunjung henti. Petruk yang tak pernah menebarkan kedengkian, pertikaian, dan kebencian.Tetapi Ayat bukan Romo Sentanu. Dalam keindahan gerak tariannya bersemayam malaikat sekaligus iblis. Dia, aku dengar dari para penari lain, gampang bertekuk lutut di hadapan perempuan yang lebih mahir menari. Ibarat Samson, dia sangat mudah ditaklukkan oleh Delilah.Kini kau mulai tahu mengapa diperlukan penggoda untuk menyingkirkan Ayat dan Romo Sentanu. Maka, baiklah kuperkenalkan kepadamu: Mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali4 yang tegak lurus dengan langit.Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi.”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?”Tak lama kemudian hujan memang turun. Dan, aku menghentikan tarianku tepat ketika truk mengonggok di depan gereja. Mungkin Romo Sentanu dan Ayat akan tergopoh-gopoh menyambutku. Mungkin sambil membungkuk-bungkukkan badan, Ayat akan bilang, ”Mangga Den Ayu, Putri Keratonku, mari menari bersamaku.”Ya, dia boleh bilang begitu. ”Tetapi, aku datang untuk menggodamu, meruntuhkan, dan meluluhlantakkanmu.”DI lereng Merapi kilau cahaya mata Romo Sentanu lebih gaib ketimbang pijar lahar. Karena itu begitu bersitatap dengan Nagreg, segala rencana jahat perempuan kencana dari kota itu membentuk semacam adegan film tragis di keheningan jiwanya yang senantiasa memancarkan kesabaran.Tak aneh jika Romo Sentanu yakin suatu saat Nagreg akan mencampurkan racun di dalam minuman Ayat sehingga Ki Dalang kehilangan suara: tak bisa lagi memainkan wayang dan menebarkan kritik kepada para pengusaha penambangan pasir liar yang jumlahnya kian tak bisa dihitung dengan ketajaman ingatan.Romo Sentanu juga tahu Ayat tak bakal bisa menari lagi karena saat menari bersama Nagreg dalam ritual Larung Sengkala yang chaos, puluhan pria kekar berseragam membabat kaki penari yang setiap tariannya merefleksikan pemberontakan pemilik bukit yang dicekik orang-orang serakah dari kota itu.”Saya hanya ingin menari bersama Ayat, Romo. Saya ingin menghentikan amarah Kiai Petruk dengan tarian-tarian cinta yang belum pernah ditarikan siapa pun,” Nagreg yang tak berani memandang kilau mata Romo Sentanu tiba-tiba merajuk.”Ya, biarkan dia menari dan jadi pesinden saya, Romo,” desis Ayat seraya meredam berahi yang tak tertahankan.Tak ada jawaban. Dan, ketika dari arah puncak Merapi terlontar sinar merah ke beringin putih di ujung desa, ketika lolongan suara serupa gajah yang terluka merintih-rintih mendera seantero kampung, Romo Sentanu menggigit bibir sampai cairan darah segar menggelincir dari mulutnya.”Nagreg akan menyelamatkan kampung ini, Romo. Biarkan dia menari bersama saya,” desah Ayat lagi sambil bersimpuh dan hendak mencium kaki pria kencana yang sangat dimuliakan itu.Belum ada jawaban. Nagreg mengumbar senyum dalam jiwa. Dan, di luar dugaan Ayat, Romo Sentanu meninggalkan gereja. Ayat tak tahu jika Romo Sentanu bertahan dan tak kembali ke kamar pribadi di sebelah gereja, bisa-bisa Nagreg merajuk dengan membuka seluruh pakaian di hadapan patung Bunda Maria yang teduh atau menarikan gerakan tak senonoh di bawah wajah Isa yang menyeringai karena luka di lambung dan tancapan mahkota duri yang menghunjam kepala.Ayat juga tak tahu di kesunyian dan dingin Merapi yang ganjil, Romo Sentanu melihat Isa menangis sesunggukan di bawah pohon beringin putih di ujung desa. Suaranya melengking-lengking bagai puluhan gajah terluka.5ARAK-arakan itu lebih mirip karnaval ketimbang ritual persembahan kepada Kiai Petruk. Dan, malam itu di antara ratusan obor yang diacung-acungkan ke langit, di antara hujan awan panas dan lahar yang terus meleleh pada November yang perih, Romo Sentanu diapit beberapa misdinar memimpin upacara Larung Sengkala yang bakal dihanyutkan di dam yang kehabisan air.Di belakang Romo Sentanu menjalar ratusan penduduk kampung yang mengikuti gerakan tari Ayat dan Nagreg. Ada yang mengenakan topeng-topeng menyerupai kepala gajah. Ada yang mencoreng-coreng wajah mereka agar tampak sebagai harimau.”Gusti, firmanMu akan jadi kasunyatan”, Romo Sentanu mendesah.Ya. Dan, Aku tahu siapa yang akan jadi korban.”Mereka akan memukul kepala saya di tengah-tengah tarian yang chaos, Gusti.”Ya. Mereka akan membentangkan tanganmu di antara kedua bantaran sungai dengan tali teramat kuat. Setelah itu, lambungmu akan dihujami puluhan peluru.”Mengapa harus saya, Gusti? Mengapa bukan yang lain?”O, bukan hanya kau, Sentanu. Ayat dan Nagreg juga disalib bersamamu.SUNGGUH tak ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru yang memekakkan telinga. Kadang-kadang saat gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadang-kadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air.Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk yang menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman serupa mambang.Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali.Dan, malam itu mereka datang lagi. Tidak! Tidak! Mungkin sudah beberapa bulan lalu mereka menyusup dan hidup bersama penduduk. Sebagaimana aku, (o, kau tahu namaku Nagreg bukan?), mereka telah menghirup udara, cahaya, tradisi, kebodohan-kebodohan, tarian-tarian aneh, mitologi Kiai Petruk, wedhus gembel yang prek kethek, dan segala tingkah Romo Sentanu serta Ayat.Maka, mereka sangat tahu bagaimana cara terbaik menghilangkan Ayat atau Romo Sentanu. Di tengah kegelapan malam, mereka menggiring pria-pria kencana itu ke tengah-tengah dam dan di keriuhan tarian yang chaos untuk menghormati Kiai Petruk, membabat kaki, kepala, atau menembak lambung tanpa suara.Ayat dan Romo Sentanu tentu tak menyangka bakal diperlakukan semacam itu. Sebab, mereka tak pernah menebar kecurigaan ke penduduk. Sebab, mereka tak pernah bersengketa dengan orang-orang miskin itu. Tetapi, bukankah pria-pria berseragam—di belahan dunia mana pun—mahir menjadi bunglon, pandai mengubah diri menjadi trengiling atau ular sawah? Jadi, jangan heran jika mereka bisa menusuk dari belakang.Baiklah, sekali lagi kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku penari. Tidak! Tidak! Aku pun sebenarnya hanya korban. Mereka menyuruhku memperdaya Romo Sentanu dan Ayat. Namun, setelah segala persiapan penjagalan di tengah dam rampung, kudengar dari salah seorang pria kekar pujaan yang melakukan disersi, mereka juga akan menghabisiku. Tak boleh ada saksi. Tak ada boleh ada yang menawarkan peristiwa ini.Kini, di keriuhan segala bunyi, obor, cahaya mata Romo Sentanu, dan keliaran Ayat menerjemahkan mimpi-mimpi tentang awan panas, lelehan lahar di Puncak Merapi, dan jerit tangis dalam tari, aku hanya berharap sunyi segera menghentikan segala kekacauan ini. Ah, haruskah kuhadapi kematian dengan menari serimpi?Tak ada jawaban. Hanya jerit gamelan. Hanya jerit kesakitan. * Semarang, 2002***Catatan: 1) ”Tegak lurus dengan langit” adalah ungkapan khas Iwan Simatupang. 2) Dikutip dari ungkapan Sindhunata dalam Cikar Bobrok. 3) Kata-kata yang diungkapkan Ki Sitras Anjilin, dalang dari Desa Tutup Ngisor, saat memainkan lakon Kunjarakarna. 4) Trisik, mangenjali, ngigel adalah nama dalam gerakan tari Jawa. 5) Mitologi gajah dan beringin putih pernah digarap Elizabeth D Prasetyo dalam The White Banyan.           


Sabtu, 10 Mei 2014

HARUSKAH BERAKHIR



Haruskah berakhir
Cinta yang telah lama
ku rangkai, ku jaga, ku pelihara
sialan.. tapi itu harus
Jika aku ingin maju
jika aku ingin menjadi
aku yang sesungguhnya


                                                      cianjur, desember 2013


LULUN SAMAK



“tah cup kadenge teu eta?”
“heeh, jiga sora nu...”
Teu lila, aya abringan nu keur mawa pasaran liwat harepeun imah.
“innalillahi wa innalillahi roji’un..” ceuk kuring bareng jeung si ucup.
“tuh heeh aya nu maot cup! Aya nu maot!”
“heeh buru urang indit, urang milu nguburkeun!
Bring! Kuring jeung si ucup milu indit ka ciseuti jeung eta abringan, tempatna teu jauh ti imah kuring tadi. Pedah, rada nanjak hungkul ari ka ciseuti mah. Pas nepi, langit teh teu ujug-ujug jadi angkeub, poek, jigana mah rek hujan gede. Padahal ieu teh karek jam satengah hiji jeung deuih tadi mah basa di imah keneh langit teh caang, sakitu panas poena, tapi naha ayeuna teu ujug-ujug jadi poek?
Kuring buru-buru nyampeurkeun pak RT, kabeneran manehna ge milu nguburkeun. Lain sieun nyampeurkeun pak RT teh, kuring rek nginjem terpal, supaya ke mun hujan eta kuburna teu ka basehan, bisa ka iuhan ku eta terpal. Geus menta idin, kuring langsung indit ka imah pak RT, mawa eta terpal. Geus meunang, indit deui ka makam, tuluy buru-buru dipasangkeun.
Nyaan, teu lila saenggeus beres masangkeun eta terpal. Breg teh hujan gede, bari jeung angin-anginan deuih. Untung we geus dipasangan terpal, nu dipasang jiga tenda ngan nutup bagian luhurna hungkul, henteu jeung gigirna da hese. Jadi teu kahujanan, ngan kasaweran hungkul, ngan sarua we jeung nu kahujanan da ku angin tea katiup-tiup, baju weh baraseuh.
Beres weh ngurebkeun mayit teh, kuring jeung si ucup mantuan beberes. Kuring mah mawa terpal nu tadi tea, da kuring nu nginjeum na. Si ucup mah mawa pacul nu bapana, karunya meren bisi capeeun tas ngagali makam. Nya warga nu lain ge sarua, marawaan deui pakakas urut ngurebkeun eta mayit.
Ngan pas meresan karanda, pan dipanggul. Tah angin teh ngagedean, nepi bisa muragkeun tutup karanda nu keur dipanggul eta. Atuh eta samak teh katiup angin, seseleberan jiga nu ngapung. Murag weh ka wahangan, nu keur caah gede, palid weh. Da rek dibawa deui menya kudu ngorbankeun nyawa ngan jang mawa samak eta, meuli deui ge murah atuh ari samak paragi mayit anu dijieun tina anyaman daun pandan mah. Tapi, anu jadi kasieun arurang nu di darinya teh, sieun mitos anu aya di kampung urang teh kajadian. Ah baralik weh, da eta mah ngan mitos moal heg jadi kajadian meren.
Kaisukannana, isuk-isuk kuring indit ka garduh, rek ngumpul jeung barudak. Biasa da didinya teh sok dijieun basecamp (tempat kumpul) atawa markas lah mun ceuk urang tea mah, pokona barudak teh sok raresep kumpul didarinya. Teu beurang teu peuting sok rarame wae. Pas nepi, can aya sasaha, kaisukan meren kuring indit teh. Teuing da teu paham boga baturan teh sarena jiga nu maot wae, hese hudang, jeung mun hudang ge sok beurang wae.
Indit heula kuring teh kawarung,  rek meuli kopi jeung udud. Beres meuli kuring balik deui ka garduh, ngalamun weh sorangan, lepus udud, suruput cikopi.
“eh, Kang Agus bade kamana?” kuring ngageroan pa RT nu keur liwat.
“eh jang Rahmat! Teu, ieu bade milarian ojeg, bade meser samak anyar, jang ngagantian samak kamari anu palid tea”.
“ohh, muhun atuh, tah eta si Maman sugan aya di bumina Kang, ari nuju milarian ojeg mah”.
“enya jang, nuhun. Mangga ah tipayun..”
Leos weh indit eta pak RT teh, bieu ngobrol jeung pak RT jadi kapikiran ngeunaan soal mitos samak tea. Sieun aya kajadian nanaon, pasti baheula ge pernah aya kajadian nu siga kieu, matak ayeuna aya mitos na oge, meren.
“eh met tong bengong wae!” si ucup nepak urang.
“alah siah! Ngareureuwas maneh!”
“nya hampura atuh met, atuda maneh ngan ngalamun wae jiga nu keur galau. Putus lin jeung si Eha?”
“naha jadi kadinya, lain cup kuring teh kapikiran masalah nu kamari euy, masalah samak palid.”
“naha kunaon deuih atuh make dipikiran, teu pira samak mah bisa meuli deui.”
“lain ku kituna, masalah mitos na euy cup.”
Si ucup rada ngahuleng heula, teuing mikiran naon.
“mitos? Mitos naon ieu teh met?”
“sugan teh apal matak ngahuleng heula teh. Jadi kieu cenah cup, ceuk beja, baheula teh, aya kajadian anu sarua persis jiga kajadian samak palid kamari. Ngan teuing di kampung mana. Tah, geus kajadian eta, aya awewe nu mandi di eta walungan tuluy ngaleungit.”
“ah nu bener maneh met? Tong nyingsieunan atuh..”
“yehh.. cik dengekeun heula atuh. Teuing kunaon eta awewe teh ujug-ujug leungit, da cenah mah samemeh ngaleungit eta awewe teh gogorowokan “tulung! Tulung! Aya nu medol!” pas kitu aya pak tani, ningali eta awewe teh sukuna keur dilulun ku samak, langsung lumpat eta pak tani teh nyampeurkeun eta awewe, niat mah rek nulungan ngan teu kaburu. Kaburu kabawa ka tengah wahangan nu jero. Si pak tani eta pan sieun langsung brebet lumpat balik ka imah pak lurah nu didinya, jeung ngabejakeun yen aya awewe nu leungit di walungan. Langsung pak lurah teh, ngumpulkeun kabeh warga kecuali kolot eta awewe, rek neangan eta awewe, sugan we hirup keneh. Na da eta mah, geus tepi di walungan teh eweuh eta awewe teh!”
“eweuh kamana met?” bari ngadekeutan kuring diukna.
“heeh teuing nyaeta, teuing kamana, da mun heeh maot ge pasti awakna mah aya meren? Mun palid ge da teu mungkin jauh jeung keur teu caah deuih. Tapi teuing eta awewe teh teu ujug-ujug ngaleungit teuing kamana”.
“ah maneh mah rek nyingsieunan urang nya ?”
“astagfirullah.. lain cup, eta teh kajadian baheula, cenah. Jadi kuring teh kapikiran mitos eta”
“heeh tuluy kumaha eta saenggeus ngaleungit kitu?”
“nya saenggeus kajadian eta teh, tiap-tiap lalaki nu ngojay ka eta wahangan sore-sore, liwat ti jam opatan, sok aya nu medol oge jiga kajadian nu awew tadi, nya kadang salamet kadang milu palid. Komo lamun pas keur jum’atan mah, eta lalaki mun ngojay didinya, geus moal bisa salamet!. Tapi eta kajadian teh ngan bakal ka lalaki hungkul, soalna cenah eta awewe nu ngaleungit eta teh jadi ngahiji jeung eta samak, teuing ngahiji di dahar ku samak teuing kumaha. Tah ku sabab samak eta sok, ngalulun suku jeung medolan batur tepi ka tengah walungan, jadi disebutna lulun samak”.
“jadi sieun ngojay di wahangan deui urang mat euy”.
“nya teu kitu oge meren cup, ngojay mah bae ngan ati-ati mah perlu. Geus ah, urang rek balik heula nya, mantuan ngala suluh euy keur di imah.”
“kela kela.. eta carita teh bener?”
“nya teuing atuh, kumaha maneh we rek percaya atawa henteu oge. Hayu ah, assalamualaikum!”
“kela met, tungguan.. urang milu!”

TAK BERSAMAKU



Melihatmu
melihat senyum itu
senyum yang berikan aku
hidup
Melihatmu
melihat tangis itu
tangis yang berikan aku
pedih
Aku ingin kau tersenyum sayang
bersamaku
namun, yang kulakukan membuatmu
menangis
Maafkan aku
tubuhku penuh duri
inginku pelukmu
tak mungkin
Maaf, aku hanya ingin kau bahagia
Aku pergi, tak meninggalkanmu
aku ada, tak disisimu
aku ingin melihatmu
melihat senyum itu
tanpa ada tangis
di wajahmu
meski itu,
tak bersamaku

Pagelaran, 10 mei 2014

Senin, 08 Juli 2013

Hadiah darimu sayang !


Aku mencintaimu,
sungguh! Aku sangat mencintaimu
tapi apa yang kudapatkan dari hal itu?
satu hadiah yang kau berikan
sebuah kebohongan
Kau pergi dengannya
meninggalkan sebuah kebohongan untukku
mungkin aku dapat mengerti, tapi mengapa?
tapi kemudian kau berikanku lagi satu hadiah
sebuah alasan
Alasan itu,
yang mengharuskan aku merelakanmu,
alasan itu,
yang tak pernah dan takkan pernah bisa ku mengerti
namun, kucoba pahami
meskipun ku tak mengerti, ku coba pahami
tak sempat ku bertanya,
lalu kemudian kau berikanku lagi satu hadiah
sebuah kata
Hanya sebuah kata,
sebuah kata sakral yang memaksaku,
menjauhkan aku darimu,
membunuhku..

Dimana kau? Temann..


Dimana kau? Teman..
disaat aku dikendalikan kebodohanku
disaat aku melakukan kesalahan
yang mungkin ‘kan buat kau terluka
Maafkan aku teman
maaf atas kebodohanku
kesalahanku
sifatku
yang mungkin selalu menyakitimu
Namun, tetap ku masih bertanya
dimana kau? Teman...
selalu ku berharap kau dapat menemaniku
mengendalikan aku atas sifat burukku
menjauhkan aku dari kesepian yang selalu menghantuiku
Tak pantaskah aku menjadi temanmu?

*) Oleh Andri rahmat Zatnika

ANDAI KAU TAHU

andai kau tahu
andai kau mengerti
andai kau merasakan apa yang ku rasa,
saat itu

perih luka menyayat hati
ku coba mengerti, ku coba pahami
tentangmu, tentangku, tentang kita, tentang takdir
dan tentang keadaan yang mengharuskan kita untuk berpisah
Namun, ternyata keadaan telah menipuku
menipu kita
tapi tak menipumu
karena, kau lah keadaan itu
ini yang kau inginkan
ini yang kau harapkan
ini yang mungkin ‘kan buat kau bahagia
tanpaku
pergi
selamanya


Cianjur, 26 Mei 2012

Rabu, 19 September 2012

Jajak Pendapat Para Dewa


SEKJEN para dewa, Batara Narada, kaget melihat asap rokok mengepul-ngepul dari bumi sundul kahyangan. ”Ini pasti banyak orang NU klepas-klepus. Mereka pasti kumpul-kumpul atau rapat menyambut 100 hari wafatnya Gus Dur,” pikir dewa yang murah senyum itu.
Perasaan Batara Guru membenarkan dugaan Narada. Dewa yang merajai Kahyangan Junggring Saloka itu membatin, ”Tidak mungkin asap rokok ini berasal dari pertemuan orang-orang Muhammadiyah. Mereka kan cenderung mengharamkan ngudut.”

Dewa Bayu yang menguasai angin berfirasat lain. Ayah angkat Bima dan Hanuman ini punya feeling, pasti ini gara-gara lakon Hanuman Obong berulang di muka bumi.

Itulah lakon ketika Hanuman menyusup ke Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Hulubalang Alengka kemudian membakar Hanuman. Ngamuklah putra Dewi Anjani ini. Dengan api yang berkobar di sekujur tubuhnya ia melompat-lompat di atap-atap rumah penduduk hingga nyaris seluruh rumah di Alengka dilanda raja merah. Dahana menjalar, merata di seluruh negeri. Asapnya membubung sampai kahyangan.


Ah, tapi, ternyata, itu bukan himpunan asap tembakau. Para dewa juga bisa keliru. Dewa juga manusia. Itu asap yang bergelora dari pembakaran ban dan pembakaran mobil-mobil juru gusur. Barang-barang itu dibakar di kawasan makam Mbah Priuk sampai merantak rata ke seantero negeri.

Narada antara percaya dan tidak. Ia masih mendongak seperti kebiasaannya dan selalu ngomong sambil cekakakan. Katanya kepada Batara Guru, ”Wahai Batara Pengalaman…”

”Kok dingaren kamu, Kakang Narada, manggil saya Batara Pengalaman…”

”Karena pengalaman adalah guru yang terbaik…Maka boleh dong Batara Guru saya panggil Batara Pengalaman…”

”Ya sudah, terserah situ…”

”Wahai Batara Pengalaman, atas dasar pengalaman Adinda, segera kasih perintah kepada kami jajaran dewa, tindakan apa yang sebaiknya kami ambil dalam keadaan gawat darurat seperti saat ini…?”

Batara Pengalaman di atas singgasana berupa punggung Lembu Andini segera memerintahkan stafnya agar meralat ucapan menteri pendidikan suatu negeri bahwa sekolah bertaraf internasional yang mahal-mahal sangatlah wajar adanya.

Kata Sang Menteri, ”Kalau sudah tahu biaya di sekolah tersebut mahal, ya cari alternatif sekolah yang murah. Semua ada kastanya. Ada yang pakai mobil, ada yang pakai sepeda motor. Kastanisasi sifatnya tidak SARA atau diskriminatif. Itu sifatnya kompetitif…”

”Hahaha…” Batara Narada cekakakan, ”Bukan perkara pendidikan itu keadaan gawat darurat yang kami maksud, wahai Batara Pengalaman. Tapi api yang berasal dari kawasan pesarean Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad RA alias Mbah Priuk.”

Batara Pengalaman tersentak. Menurutnya perkara pendidikan juga tak kalah penting dan mendesak. Pendidikan itu bagian paling penting dari kebudayaan. Ingat kata almarhum Kadaruslan alias Cak Kadar, kita bukan saja perlu sembako, yaitu sembilan bahan kebutuhan pokok. Kita perlu sepuluh. Di dalamnya, kata Cak Kadar, adalah kebutuhan akan kebudayaan.

Kompromi tercapai. Batara Pengalaman alias Manikmaya atau Jagad Girinata memerintahkan jajaran dewata meralat ucapan seorang menteri, sekaligus memerintahkan segera bikin rapat tentang perlu atau tidaknya membubarkan organisasi juru gusur.

Demikian hasil sidang di Kahyangan Junggring Saloka alias Jong Giri Kelasa atau Ondar-andir Bawono.

***

Dalam jajak pendapat yang diselenggarakan para dewa untuk membantu pengambilan keputusan tentang perlu tidaknya persatuan juru gusur dibubarkan, Petruk abstain.

Menurut Petruk, dunia ini, di samping panggung sandiwara seperti kata Ahmad Albar, juga panggung yang isinya tergantung pada kita sendiri. Ndak cuma soal penggusuran. Nek Sampeyan bacaannya koran politik dan hukum, ya dunia ini isinya orang full berantem seperti kasus Priuk. Begitu juga kalau tontonan Sampeyan itu televisi-televisi non-infotainment… pasti isinya soal penggusuran, kerusuhan, dan lain-lain.

”Jadi, saya tidak akan mengisi formulir jajak pendapat ini ya Mas Dewa,” kata Petruk, ”Wong formulir SPT pajak juga belum saya isi gara-gara kasus Gayus…”

”Boikot pajak?” tanya petugas jajak pendapat dari kalangan dewa.

”Hmmm… belum tahu ya, Mas Dewa. Tapi kalau Mas Dewa tanya tentang hal-hal lain di luar Sjahril Djohan, penggusuran, dan lain-lain, saya akan jawab. Soalnya bacaan dan tontonan saya bukan koran atau teve yang jenis-jenis gitu. Kalau Mas Dewa tanya, apa pernyataan penyanyi dangdut Maria Eva yang kabarnya bakal memimpin Kabupaten Lumpur Lapindo, saya akan jawab di luar kepala…Maria Eva kan bilang, dia bisa seperti itu berkat perjuangan Kartini…”

”Eh, salah, Mas Petruk, itu pernyataan Julia Perez…”

”Lho, kok Sampeyan lebih ngerti...?”

”Wadoh, Mas Petruk ini bagaimana, pekerjaan saya memang bidang politik, hukum, dan perkara-perkara yang berat-berat begini. Ya, bagaimana lagi, anak-istri saya harus makan. Tapi bahwa sesungguhnya hati saya itu ada di infotainment dan sinetron. Raja saya, Batara Guru, kelihatannya saja ngomongnya politik, hukum, tapi tontonannya itu ya soal Anang-Krisdayanti, soal Mark Sungkar…dan judul-judul sinetron, beliau itu hafal, lho. Kalau pas lagi tayangan sinetron Batara Guru memimpin sidang, biasanya beliau SMS saya minta rekamannya…”

Berbeda dengan Petruk, Bagong langsung setuju pembubaran gerombolan juru gusur.

***

Bukan Gareng kalau langsung main labrak seperti Bagong. Bukan Gareng pula kalau cuek-cuekan seperti Petruk. Gareng berpikir, juru gusur tidak salah kalau berkelahi. Juru gusur yang helm-nya sekilas kayak tentara Romawi itu memang dididik untuk berkelahi. Lihat saja mereka pakai pentungan, gas air mata, mobilnya kayak kendaraan perang, pakai tameng kayak serdadu-serdadu Sparta.

Badan mereka juga tegap-tegap. Kalau di Srimulat itu ya mirip Tarsan dan Paul. Tidak ada juru gusur yang badannya kayak Mas Bambang Gentolet atau Gogon. Apalagi kayak Amink. Jadi, juru gusur itu memang dipersiapkan untuk gelut.

Mestinya, kata Gareng, orang-orang kerempeng juga boleh jadi juru gusur. Mereka dididik untuk bisa berembuk. ”Senjata”-nya ya tikar, makanan, asbak, rokok, dan lain-lain. Dengan alat-alat itu mereka duduk bersila, musyawarah dengan warga…kan nggak semua warga Muhammadiyah, banyak juga warga NU. Mereka masih banyak yang jadi ”ahli hisab” alias perokok.

Tukang jajak pendapat menyela, ”Jadi, kementerian pendidikan harus dibubarkan karena tidak bisa mendidik juru gusur?”

”Ya, nalarnya, ya, yang bertanggung jawab. Di atasnya lagi.”

”Yang harus dibubarkan Lembaga Kepresidenan, Mas Gareng?”

”Di atasnya lagi, kahyangan…”

”Batara Guru?”

Pendapat Gareng ini langsung sampai ke kahyangan Ondar-andir Bawono. Batara Guru diantar Lembu Andini langsung bablas turun ke dunia, tepatnya di Padepokan Klampis Ireng tempat Gareng bercokol.

Kata Batara Guru, ”Reng, Gareng, kamu ngomong jangan asal njeplak ya…Cangkemmu ta’ tapu’i tenan lho..!!!”

Setelah hanya satu kalimat itu Batara Guru kembali mengangkasa lagi. Lembu Andini dalam hati misuh-misuh. ”Jauh-jauh dari kahyangan menukik dan kini mengangkasa lagi, capek, hanya untuk omong gitu saja? Alamak!!! Lagian Gareng saja lho kok diladeni….Ta’ pikir tadi akan ketemu raja sekelas Puntadewa atau Sri Kresna…Hmmm…”

”Sudah nggak usah ngomel,” ternyata Batara Guru mampu mendengar bisikan hati Lembu Andini, ”Cepetan. Nanti keburu ketinggalan sinetron Cinta Fitri...” (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

Jejak Ditam


INILAH malam yang sangat runcing bagi Ditam. Menusuk hulu jantung menembus sukma. Mengalirkan darah dan resah. Malam juga mendenging bersama suara jangkrik. Ditingkahi dengkur suaminya yang sedang lelap tanpa mimpi. Dalam remang kamar, ia melihat wajah laki-laki itu sangatlah lelah. Maklum setelah seharian tadi bekerja sebagai kuli bangunan.

Bulan disimpan awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ditam berusaha berdiri di keremangan kamar. Betapa yakin hatinya, laki-laki itu takkan terjaga.


”Kini saatnya.” Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya.

Perempuan itu bangkit dan melangkah pelan. Hatinya menahan tubuh yang sedikit gemetaran. Tapi niatnya sudah begitu runcing.

***

Badul heran. Ia bangun dengan peluh bercucuran. Begitu lelap ia tertidur hingga tak ada mimpi menghiasi tidurnya. Matahari telah meninggi. Cahayanya mengintip lewat ventilasi, memanaskan kamar tempat ia menganyam malam. Pintu jendela masih tertutup rapat. Ini tak biasa.

Kenapa Ditam tak membangunkannya? Ditam selalu membuka jendela saat subuh tiba. Ini salah satu kebiasaan yang sangat hapal bagi Badul. Sebab, ia akan merasakan udara subuh menyapa tubuh. Dingin. Biasanya, Badul segera bangun dan memeluk Ditam dari belakang. Tapi hari ini tidak. Ke mana perempuan itu? Hatinya bertanya-tanya.

***

Ditam terlihat kusut setelah puluhan jam dalam bus kelas ekonomi. Bus telah tiba di terminal sebuah kota. Hiruk pikuk kondektur terdengar mengatur penumpang yang turun dan mengambil barang. Penjaja makanan membangunkan tidurnya, menawarkan beragam barang. Sungguh, ia tak begitu lelap tidur. Sebab, setiap jalan yang berkelok, tubuhnya akan dibawa miring. Ia tak terjaga bila begitu.

Orang-orang turun dari bus. Sambil menjinjing tas satu-satunya yang ia bawa dari dusun malam itu, Ditam juga beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.

”Sabar sayang. Aku akan datang.” Seutas senyum dari bibirnya melayang.

Ia berjalan keluar terminal. Mencari angkot menuju sebuah rumah yang ia sangat mengerti di mana tempatnya. Di situ, seseorang telah menunggu.

***

Seisi dusun buncah. Ditam pergi malam meninggalkan Badul. Seribu tanya dari orang kampung membuat malu hatinya. Jangankan dapat menjawab pertanyaan orang-orang kampung, pertanyaan sendiri saja tak dapat ia jawab. Apa yang telah terjadi atas rumah tangganya? Badul sedikit bingung untuk menjawab. Sebab, tak ada masalah sama sekali antara dirinya dengan Ditam.

”Pergilah jemput dia, pasti dia pergi ke kota tempat ia bekerja dulu.” Mertua perempuan turun tangan. Rasa iba emak merayap di tubuh Badul. Emak, demikian Badul dan Ditam biasa memanggil perempuan dengan rambut yang telah memutih itu.

Maka, berangkatlah Badul ke kota yang belum pernah ia datangi. Berbekal beberapa nomor kontak telepon, handphone, dan alamat di secarik kertas. Sembari berharap, semoga benar, ke sanalah Ditam pergi.

Di perjalanan, ia mabuk darat. Bukan main ia malu dengan penumpang lain. Sembari mohon maaf, ia muntah sejadi-jadinya. Ini perjalanan jauh yang baru pertama kali dilakukannya.

Ditam teman kecil Badul. Mereka sekelas waktu sekolah dasar. Setelah tamat, mereka tidak pernah bertemu lagi. Dusun Ditam agak jauh dari dusun Badul. Mereka berbeda sekolah lanjutan pertama dan atas. Tak banyak waktu bertemu dan belum ada rasa sayang lahir di antara mereka berdua.

Setamat sekolah lanjutan tingkat atas, Ditam pergi merantau. Menjadi tenaga kerja di berbagai kota. Ia memang terampil dan pekerja keras. Beberapa kota pernah disinggahinya. Mulai Jambi, Pekanbaru, Batam, bahkan pernah menyeberang ke Malaysia. Terakhir, sebelum jatuh sakit, Ditam bekerja di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Bekerja di sebuah pabrik rokok terkenal di bagian marketing. Pengalaman itu membuatnya berbeda di dusun. Punya perhiasan emas di jari, lengan, leher, dan betis. Menjadi kebanggaan keluarga, walau terlambat menikah. Penampilannya berbeda dari umumnya gadis dusun yang sebaya. Perempuan sebayanya telah punya anak. Ia menjadi tertua di antara perempuan-perempuan yang belum bersuami.

Sampai suatu hari, Ditam bertemu Badul dalam sebuah perjamuan pesta pernikahan. Keduanya dijodoh-jodohkan para gadis remaja. Demikianlah akhirnya Badul berani bertandang ke rumah Ditam. Dan merasakan getar-getar yang telah mengganggu tidurnya. Semula agak canggung bagi Badul, tapi seterusnya ia berani menyatakan untuk hidup semati dengan Ditam.

Ditam perempuan berumur di atas dua puluh lima tahun. Sudah dianggap tua di dusun itu. Pun begitu dengan Badul. Perjaka yang dikenal alim dan pekerja keras. Keduanya beda pengalaman. Badul tak menamatkan sekolah tingkat atas, tak ada biaya. Biasanya, laki-laki di kampungnya menamatkan sekolah hingga tingkat menengah. Itu pun tak banyak. Selebihnya tamat sekolah dasar, langsung mencari pekerjaan. Apa saja, yang penting bisa mendapatkan uang. Begitulah Badul, akhirnya menjadi pekerja kuli bangunan. Ia paham sekali bagaimana membangun rumah. Pengalaman telah mengajarkannya.

Bus telah sampai ke tujuan. Badul turun bersama penumpang lain. Ia mulai bertanya, ke mana alamat yang hendak dicari?

”Naik angkot putih. Turun di pasar, setelah itu naik angkot merah, turun di penghabisan tujuan. Naik ojek, sebutkan alamat. Semoga sampai,” kata laki-laki itu entah siapa. Bagi Badul, ini sebuah pertolongan yang berarti.

Setelah membayar lontong yang ia makan di sebuah kedai kecil sudut terminal, mulailah ia mengembara di sebuah kota yang belum ia kenal. Mencari Ditam, membawanya pulang.

***

Mereka berpelukan. Melepas kerinduan. Pelukan mereka sangat mesra. Tiga tahun lebih tak bertemu, segenap rasa itu seperti ingin dituntaskan saja. Tapi dering handphone membuka pelukan itu.

”Hei. Hari ini kita libur kerja. Kerusuhan di Batam membuat kantor cabang kita tutup. Para bos kita telah menyeberang ke Singapura, sore kemarin,” suara telepon tak terdengar oleh Ditam.

”Mantaplah itu. Bisa kita libur hari ini. Terima kasih infonya. Aku di rumah saja, ada tamu dari kampung.” Saluran handphone terhenti. Wajah penerima telepon itu sangat semringah. Percakapan tadi memastikan ia bisa melepas segenap rindu yang telah lama beku hari ini. Hingga tanpa batas waktu yang belum ditentukan.

Mereka masih di ruang tamu. Kembali berpelukan hangat. Angin sepoi-sepoi menghantar siang yang ranum lewat jendela. Sebuah rumah masih baru ditempati sangat asri. Lengang. Mereka masuk ke kamar dan menutup pintu. Angin masih menerpa bunga-bunga di halaman.

***

Lima hari berlalu di kota yang baru dikenalnya, Badul merogoh kantong celana panjangnya yang telah lusuh. Hanya tersisa beberapa ratus ribu saja dari satu juta yang dibawanya dari dusun. Telah habis. Untuk ongkos bus, angkot, makan, telepon umum, sewa kamar hotel kelas melati. Tapi perjalanannya belum memperlihatkan hasil. Uang yang susah payah dikumpulkan selama ini, bisa habis dalam beberapa hari saja. Badul tak habis pikir.

Kini tujuannya makin tak pasti. Ia berjalan menelusuri lorong-lorong sebuah kompleks. Melihat seluruh perempuan yang ada di hadapannya. Telah ia tanamkan ke dalam benaknya, ciri-ciri tubuh perempuan yang pernah ia peluk dengan utuh itu. Sesekali ia memandang foto yang ia bawa. Belum putus asa, tapi ia sudah terlihat kumal.

Kepada siapa pun ia bercerita tentang Ditam. Di tempat membeli lontong ketika pagi hari, kedai makan ketika makan siang, di terminal, membeli rokok, ia beberkan seluruh cerita tentang Ditam. Ia perlihatkan foto kepada orang-orang yang memiliki wajah ikhlas mau menolong. Tapi semua nihil.

”Tidak kenal saya. Saya pernah kerja di situ, tapi sebentar. Itu pun sebagai satpam pada malam hari. Ada ribuan karyawan di perusahaan elektronik bagian packing. Tak bisa kenal satu per satu, Pak,” kata lelaki yang baru dikenal Ditam itu seperti ingin sekali menolong, tapi ia tak tahu caranya.

”Memang baju perusahaan itu yang ia pakai dalam foto. Tapi kalau sudah keluar, ya tak mungkin masuk lagi. Apa pernah tanya ke perusahaan, kalau-kalau ia datang lagi?” Seorang perempuan di sebuah kedai berkomentar tanpa banyak membantu.

Badul tampak kuyu. Berlalu sambil mengucapkan terima kasih. Logat kampung halaman masih terdengar kental. Kini ia berjalan di pinggir pagar kawat tinggi sebuah pelabuhan. Ia memasuki lorong tanpa ada nama tertera. Lelah dan haus seperti ingin ia dustai. Rasa cintanya telah melumat hal-hal demikian. Ia tak mau pulang membawa hampa.

Terbesit dalam benaknya, apa benar Ditam di kota ini? Bukankah banyak kota telah disinggahi Ditam?

***

”Ya. Masih di Pekanbaru. Ada apa?”

”Apakah Ditam ke tempatmu? Ada yang mencari dari kampungnya.”

”Kami sudah putus. Sejak Ditam menikah, sekitar tiga tahun lalu.”

”Dari siapa?” Ditam bertanya. Wajahnya mengernyit ingin tahu.

”Tenang Sayang. Dari teman tempat kita bekerja dulu.”

”Tahu siapa yang mencariku?”

”Tak perlu ditanya. Bukankah kita tak perlu tahu?”

Keduanya berpagut lagi. Belum tuntas juga mereka melepas seluruh kerinduan. Apakah memang begitu rindu yang membeku? Ditam sangat menikmatinya. Di mana lagu sendu meningkahi lenguh kehidupan yang kini direguk tak habis-habisnya.

***

Senja meramu jingga. Badul masih berjalan tak tentu arah. Hari ini masih nihil. Tak ada sedikit pun jejak perjalanan Ditam ditemui. Kalaupun bertemu, hanya sebatas nomor telepon yang tak lagi aktif didapat.

Sementara itu, uang di kantong kian menipis. Ia berjalan di pusat keramaian. Masih ia harapkan bertemu dengan wajah yang dicari. Walau hatinya sendiri tak begitu yakin dapat mencari seseorang di tengah kota seramai ini.

Senja merangkak malam. Lampu jalanan mulai menyala. Badul masih terus berjalan. Entah ke mana badan hendak dibawa, ia juga tak tahu. Malam baru dimulai.

***

Mereka baru pulang dari tempat hiburan malam. Ada aroma peluh bercampur parfum yang mereka pakai. Tampak lelah dan mengantuk. Mereka seperti mabuk. Malam sangat gemerlap. Lampu jalanan, gedung-gedung seperi hidup, langit cerah berbintang. Di antara mereka, seseorang melihat jalanan dari taksi yang ditumpanginya. Ia melihat seorang laki-laki tertidur di halte. Sepertinya ia kenal, tapi cepat-cepat ia memeluk erat teman di sebelahnya. Taksi melaju dan berkelok ke jalan kecil. Di depan sebuah rumah, dua orang perempuan keluar dari pintu taksi itu. Pakaian mereka seksi sekali.

”Ini malam ulang tahunmu. Aku punya hadiah.”

”Kau selalu membuat kejutan.”

”Ya. Kita harus merayakannya. Belum puas bergoyang di pub tadi.”

Lagu sendu mengalun. Minuman dari kulkas dihidangkan. Mereka berdansa. Menyatukan badan. Satu sebagai suami, satu lagi sebagai istri. Sepasang kekasih.

***

”Emak telah curiga dari awal. Ketika mereka pulang bersama, Emak heran. Mereka seharian di kamar. Seperti pengantin baru, jarang keluar kamar. Pernah Emak menegur mereka, tapi Ditam dan Caca tertawa. Teguran Emak mereka jawab dengan memeluk Emak erat-erat seperti anak kecil. Heran.”

Cerita emak saat melepas keberangkatan menjawab curiga Badul selama ini. Sebuah foto dalam dompet Ditam tak pernah dibuang sejak pernikahan dengannya. Foto Ditam dan seorang perempuan.

”Ini Caca. Sahabat waktu kerja. Kami punya kenangan indah di tempat kerja dan tempat kost.”

Ini pengakuan Ditam yang tak membuat Badul curiga dan perlu bertanya berkali-kali lagi. Dia pun tahu sedikit tentang Caca lewat cerita Ditam. Badul tak tertarik untuk tahu.

Kini, ia menyesal. Kenapa tak bertanya tentang Caca lebih jauh waktu itu. Kenapa membiarkan seluruh kehidupan masa lalu Ditam dibawa pergi. Kenapa waktu tiga tahun pernikahan tak pernah terbesit masalah ini? Sesal itu tak pernah berguna. Kini kenyataanlah yang harus ditempuh.

Ingatan tentang malam pertama, kedua, dan seterusnya, bagi Badul adalah hiburan sepanjang perjalanan. Indah dan hanya satu kecurigaan itulah yang muncul, soal foto dalam dompet. Selebihnya tidak. Badul merasakan mendapat istri yang setia, cerdas, dan hitam manis. Patut dibanggakan, walau belum dikarunia anak.

Dua kali Ditam keguguran dan pembuahan itu belum terjadi lagi. Badul menganggap itu bukan masalah besar. Baginya, ini persoalan rezeki dan keikhlasan dari yang di Atas sana. Ada tidaknya keturunan cintanya tetap besar kepada Ditam.

”Ada nomor telepon yang bisa dihubungi? Mungkin teman Ditam yang lain? Yang pernah tinggal bersamanya di sini?”

Perempuan itu mencatat beberapa digit angka. ”Semoga masih aktif. Ini nomor yang pernah menghubungi. Waktu itu ia masih kerja di sini. Tak tahu, sejak Ditam keluar, dia juga keluar. Mereka memang teman akrab.”

Badul telah beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon itu. Tapi tak pernah aktif. Kini ia berpikir tentang pulang. Tentang rasa lapar, ongkos naik bus, dan seterusnya. Ia tersandar di sebuah halte. Tapi, matanya masih nyalang, melihat orang-orang yang lewat. Ia melihat setiap wajah perempuan. Tapi belum juga ia temukan wajah Ditam. Juga wajah Caca. Wajah yang kedua ini, samar-samar mulai ia ingat.

***

Caca pergi kerja. Ditam sendirian di rumah. Ini membuat ia teringat kampung halaman yang dua minggu lalu ditinggalkannya. Ditam ingat suaminya, Badul. Laki-laki yang terlalu alim dan tak punya daya untuk mengekplorasi seluruh potensi tubuhnya. Iba juga hati Ditam, tapi panggilan menemui Caca memang telah mengubah segalanya. Semua berawal dari pesan pendek Caca: ”Segelas madu yang setia menunggu, mari bertemu mereguk setiap waktu.”

Pesan pendek itu masuk sehari menjelang keberangkatan. Pesan yang menggerakkan Ditam untuk meninggalkan seluruh kehidupan dusun yang pernah ia rindukan. Dusun yang pernah memanggilnya pulang. Tapi kini ia tinggalkan lagi. Sebuah alamat mengiringi pesan pendek itu.

Ada tetes di pipi Ditam. Cepat-cepat ia hapus. Takut kalau Caca tahu tentang air mata yang menetes. Sebab, itu tak boleh terjadi.

”Bukankah kita harus menikmati kehidupan ini?” Begitu Caca menyatakan pandangan hidupnya. Caca perempuan lincah yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Ia punya masa lalu kelam. Terlibat narkoba dan diperkosa kekasih. Sejak itu ia membenci laki-laki. Mereka berdua bertemu di pabrik kayu sebagai sesama buruh perempuan. Beberapa tahun hidup bersama di satu kost. Di sinilah, rasa cinta tumbuh di antara mereka. Cinta yang ganjil, tak banyak yang tahu.

Ditam menghidupkan handphone yang telah lama dimatikan. Ada belasan pesan pendek yang masuk. Ia membacanya satu-satu. Umumnya dari kampung halaman. Yang paling banyak dari Badul. Tak lama setelah itu, handphone berdering. Ditam membiarkan dering itu. Nomor telepon yang tertera kode lokal kota ini. Angin menerpa wajahnya dari jendela kamar. Ragu dan malu ia untuk menekan tombol penerima sambungan. Apa mungkin itu dari Bang Badul? Tanya itu hanya sekelibat saja. Ia akhirnya membiarkan hingga tertera tulisan di layar handphone: panggilan tak terjawab.

***

Badul benar-benar kehabisan uang. Sebentar lagi ia akan menjual handphone yang kini dalam genggaman. Cuma itu jalan satu-satunya untuk ongkos pulang. Selebihnya, ia hanya ingin membuang resah. Resah di hatinya kini bersarang dendam.

Kini, ia tak berani lagi menekan tuts telepon wartel di sebuah gang. Sebab, nada sambung saja, juga menelan uangnya. Dan itu uang recehan penghabisan. Terakhir tadi, ia menekan nomor handphone Ditam. Aktif dan berdering, tapi tak diangkat. Degup jantung Badul berpacu menunggu saluran diterima di seberang sana. Tapi itu tak terjadi. Badul mengigil. Lalu meletakkan gagang telepon. Di dadanya, ada rasa sakit yang tak terperi. Nyeri. (*)

Balaibaru Padang 2010

*) Abdullah Khusairi , lahir di Sarolangun, Jambi, 16 April 1977. Cerpen dan esainya tercecer di Opera Zaman (Grafindo; Jogja 2006), Kumpulan Cerpen Khas Ranesi (Grasindo, 2007), Taufik Ismail di Mata Mahasiswa (Horison, 2008), Sebilah Sayap Bidadari Kumpulan Puisi Mengenang Gempa 7,9 SR Sumbar (Pustaka Fahima, 2010)