Blogger templates

Kamis, 04 Agustus 2016


Cermin Pasir
Karya : Triyanto Triwikromo

TAK ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru memekakkan telinga. Kadang-kadang ketika gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadang-kadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air. Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman, serupa mambang. Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Keheningan sehabis hujan. Sabetan-sabetan wayang Ki Dalang. Dan, celoteh anak-anak kala rembulan jatuh di genting atau di kesunyian tegalan.Baiklah, kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku penggoda, tetapi sebenarnya aku penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali yang tegak lurus dengan langit.1Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi.”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?” seseorang tiba-tiba mendesah.”Aku punya firasat buruk, berhentilah menggoda kami,” salah seorang penambang sepuh ikut-ikutan mendesis sambil melihat punggungku.”Malam nanti saya harus menari untuk Kiai Petruk. Izinkan saya berlatih barang sejenak. Setelah bertemu dengan Romo Sentanu dan Ayat, saya akan berhenti.””Malam nanti kami hanya slametan. Kami cuma berkumpul di gereja dan mensyukuri panen. Kami tak akan menari,” penambang sepuh mendesah lagi.”Tetapi Ayat dan Romo Sentanu meminta saya menari,” lenguhku sambil melakukan gerakan pacak gulu.Sejenak sunyi. Tak ada yang berani menghentikan tarianku. Ya, menyebut nama Kiai Petruk, Romo Sentanu, dan Ayat di desa itu sama saja dengan memanterakan kedigdayaan para dewa.Kiai Petruk, kau tahu, adalah kedahsyatan yang indah2. Kalau marah, dari mulutnya yang gaib ia bisa memuntahkan wedhus gembel. Tak perlu berbelit-belit, baiklah kubocorkan kepadamu: pada mulanya aku tak mau menggunakan ungkapan Kiai Petruk untuk menyebut Gunung Merapi. Namun, sejak menyusup ke desa ini aku terpaksa berurusan dengan segala pantangan dan eufimisme aneh terhadap gunung yang berkacak pinggang di pusat Pulau Jawa itu. Maka, aku pun menyebut awan panas yang bergulung-gulung dan menyemburkan debu-debu kejam itu sebagai wedhus gembel. Aku jadi sering menggumamkan kata-kata aneh saat kilau lahar meleleh ke lereng-lereng.Tentang Romo Sentanu: ah, dia hanyalah pastor desa. Aku terpaksa berurusan dengan pria santun itu karena dia terlalu mencampuri urusan para pengusaha penambang pasir dengan penduduk. Dia malah kerap berperan sebagai penggerak demonstrasi ketimbang sebagai paderi. Dan, salah satu tugasku ke desa ini, kau tahu, adalah penggoda. Kalau perlu merontokkan namanya.Karena itu aku akan menari telanjang di kamarnya. Akan kurobohkan seluruh pemahaman dia tentang kerling mata perempuan, desah manja wanita sehabis senja, dan pagutan indah singa betina di leher pria kencana.Kadang-kadang saat suara-suara cenggeret dan garengpung membelah desa, aku sudah membayangkan para lelaki kekar berseragam, teman-temanku yang tak banyak cakap itu, membentangkan kedua tangan Romo di tubuh bukit, memaku kedua telapak tangan, dan menancapkan linggis ke lambungnya. Dan, selalu pada saat dia mengerang kesakitan, aku membuka seluruh pakaian dan menarikan tarian paling erotis dan menghunjamkan pemandangan menyiksa itu ke matanya yang telah dibutakan.Jadi, dia bukan lawan yang harus terlalu diperhitungkan. Kapan pun tangan-tangan kami yang perkasa bisa dengan mudah menghilangkan nyawa paderi yang santun itu.Ah, kau tentu telah mengenal Ayat lebih dari aku mengenal batu-batu, koral, lumut, dan keheningan desa ini. Kau tentu pernah melihat pria bersarung yang sering memainkan lakon Kunjarakarna itu untuk membeberkan kebusukan pengusaha penambangan pasir.Kau tentu sering melihat mulutnya yang nyinyir saat meledakkan kata-kata, ”Dewa ora adil! Dewa ora adil!”3 di hadapan orang-orang asing yang berkunjung ke desa itu.Ya, di mata dalang ceking itu dewa memang tidak adil. Dewa memakmurkan para pria kekar yang tak habis-habis menambang pasir dan tak pernah menggubris penderitaan petani-petani miskin. Dewa hanya memberi Kiai Petruk dan wedhus gembel, tetapi lupa membelai rambut para perempuan yang kehilangan suami saat lahar meluluhlantakkan desa.Dan kalau sudah mendalang, Ayat bisa berubah menjadi dewa. Dengan lembut dia bisa mengajak siapa pun melawan kesewenang-wenangan. Suatu hari ketika dia bilang, ”Mari menari semalam suntuk di sepanjang jalan!” orang-orang sedesa berjoget dari mulut desa hingga ke lereng Merapi.Keruan saja tak ada truk berani menembus kerumunan penari. Tak ada yang bersikeras melindas kepala anak-anak kecil yang sengaja menonton gerak indah para tetua kampung sambil tiduran di sepanjang jalan.Ayat juga mahir menari. Melihat Ayat menari, orang sedesa seperti berjumpa dengan Petruk yang ramah. Petruk yang tak pernah menghukum orang-orang sederhana dengan lahar, awan panas, dan hujan batu yang tak kunjung henti. Petruk yang tak pernah menebarkan kedengkian, pertikaian, dan kebencian.Tetapi Ayat bukan Romo Sentanu. Dalam keindahan gerak tariannya bersemayam malaikat sekaligus iblis. Dia, aku dengar dari para penari lain, gampang bertekuk lutut di hadapan perempuan yang lebih mahir menari. Ibarat Samson, dia sangat mudah ditaklukkan oleh Delilah.Kini kau mulai tahu mengapa diperlukan penggoda untuk menyingkirkan Ayat dan Romo Sentanu. Maka, baiklah kuperkenalkan kepadamu: Mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali4 yang tegak lurus dengan langit.Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi.”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?”Tak lama kemudian hujan memang turun. Dan, aku menghentikan tarianku tepat ketika truk mengonggok di depan gereja. Mungkin Romo Sentanu dan Ayat akan tergopoh-gopoh menyambutku. Mungkin sambil membungkuk-bungkukkan badan, Ayat akan bilang, ”Mangga Den Ayu, Putri Keratonku, mari menari bersamaku.”Ya, dia boleh bilang begitu. ”Tetapi, aku datang untuk menggodamu, meruntuhkan, dan meluluhlantakkanmu.”DI lereng Merapi kilau cahaya mata Romo Sentanu lebih gaib ketimbang pijar lahar. Karena itu begitu bersitatap dengan Nagreg, segala rencana jahat perempuan kencana dari kota itu membentuk semacam adegan film tragis di keheningan jiwanya yang senantiasa memancarkan kesabaran.Tak aneh jika Romo Sentanu yakin suatu saat Nagreg akan mencampurkan racun di dalam minuman Ayat sehingga Ki Dalang kehilangan suara: tak bisa lagi memainkan wayang dan menebarkan kritik kepada para pengusaha penambangan pasir liar yang jumlahnya kian tak bisa dihitung dengan ketajaman ingatan.Romo Sentanu juga tahu Ayat tak bakal bisa menari lagi karena saat menari bersama Nagreg dalam ritual Larung Sengkala yang chaos, puluhan pria kekar berseragam membabat kaki penari yang setiap tariannya merefleksikan pemberontakan pemilik bukit yang dicekik orang-orang serakah dari kota itu.”Saya hanya ingin menari bersama Ayat, Romo. Saya ingin menghentikan amarah Kiai Petruk dengan tarian-tarian cinta yang belum pernah ditarikan siapa pun,” Nagreg yang tak berani memandang kilau mata Romo Sentanu tiba-tiba merajuk.”Ya, biarkan dia menari dan jadi pesinden saya, Romo,” desis Ayat seraya meredam berahi yang tak tertahankan.Tak ada jawaban. Dan, ketika dari arah puncak Merapi terlontar sinar merah ke beringin putih di ujung desa, ketika lolongan suara serupa gajah yang terluka merintih-rintih mendera seantero kampung, Romo Sentanu menggigit bibir sampai cairan darah segar menggelincir dari mulutnya.”Nagreg akan menyelamatkan kampung ini, Romo. Biarkan dia menari bersama saya,” desah Ayat lagi sambil bersimpuh dan hendak mencium kaki pria kencana yang sangat dimuliakan itu.Belum ada jawaban. Nagreg mengumbar senyum dalam jiwa. Dan, di luar dugaan Ayat, Romo Sentanu meninggalkan gereja. Ayat tak tahu jika Romo Sentanu bertahan dan tak kembali ke kamar pribadi di sebelah gereja, bisa-bisa Nagreg merajuk dengan membuka seluruh pakaian di hadapan patung Bunda Maria yang teduh atau menarikan gerakan tak senonoh di bawah wajah Isa yang menyeringai karena luka di lambung dan tancapan mahkota duri yang menghunjam kepala.Ayat juga tak tahu di kesunyian dan dingin Merapi yang ganjil, Romo Sentanu melihat Isa menangis sesunggukan di bawah pohon beringin putih di ujung desa. Suaranya melengking-lengking bagai puluhan gajah terluka.5ARAK-arakan itu lebih mirip karnaval ketimbang ritual persembahan kepada Kiai Petruk. Dan, malam itu di antara ratusan obor yang diacung-acungkan ke langit, di antara hujan awan panas dan lahar yang terus meleleh pada November yang perih, Romo Sentanu diapit beberapa misdinar memimpin upacara Larung Sengkala yang bakal dihanyutkan di dam yang kehabisan air.Di belakang Romo Sentanu menjalar ratusan penduduk kampung yang mengikuti gerakan tari Ayat dan Nagreg. Ada yang mengenakan topeng-topeng menyerupai kepala gajah. Ada yang mencoreng-coreng wajah mereka agar tampak sebagai harimau.”Gusti, firmanMu akan jadi kasunyatan”, Romo Sentanu mendesah.Ya. Dan, Aku tahu siapa yang akan jadi korban.”Mereka akan memukul kepala saya di tengah-tengah tarian yang chaos, Gusti.”Ya. Mereka akan membentangkan tanganmu di antara kedua bantaran sungai dengan tali teramat kuat. Setelah itu, lambungmu akan dihujami puluhan peluru.”Mengapa harus saya, Gusti? Mengapa bukan yang lain?”O, bukan hanya kau, Sentanu. Ayat dan Nagreg juga disalib bersamamu.SUNGGUH tak ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru yang memekakkan telinga. Kadang-kadang saat gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadang-kadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air.Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk yang menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman serupa mambang.Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali.Dan, malam itu mereka datang lagi. Tidak! Tidak! Mungkin sudah beberapa bulan lalu mereka menyusup dan hidup bersama penduduk. Sebagaimana aku, (o, kau tahu namaku Nagreg bukan?), mereka telah menghirup udara, cahaya, tradisi, kebodohan-kebodohan, tarian-tarian aneh, mitologi Kiai Petruk, wedhus gembel yang prek kethek, dan segala tingkah Romo Sentanu serta Ayat.Maka, mereka sangat tahu bagaimana cara terbaik menghilangkan Ayat atau Romo Sentanu. Di tengah kegelapan malam, mereka menggiring pria-pria kencana itu ke tengah-tengah dam dan di keriuhan tarian yang chaos untuk menghormati Kiai Petruk, membabat kaki, kepala, atau menembak lambung tanpa suara.Ayat dan Romo Sentanu tentu tak menyangka bakal diperlakukan semacam itu. Sebab, mereka tak pernah menebar kecurigaan ke penduduk. Sebab, mereka tak pernah bersengketa dengan orang-orang miskin itu. Tetapi, bukankah pria-pria berseragam—di belahan dunia mana pun—mahir menjadi bunglon, pandai mengubah diri menjadi trengiling atau ular sawah? Jadi, jangan heran jika mereka bisa menusuk dari belakang.Baiklah, sekali lagi kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku penari. Tidak! Tidak! Aku pun sebenarnya hanya korban. Mereka menyuruhku memperdaya Romo Sentanu dan Ayat. Namun, setelah segala persiapan penjagalan di tengah dam rampung, kudengar dari salah seorang pria kekar pujaan yang melakukan disersi, mereka juga akan menghabisiku. Tak boleh ada saksi. Tak ada boleh ada yang menawarkan peristiwa ini.Kini, di keriuhan segala bunyi, obor, cahaya mata Romo Sentanu, dan keliaran Ayat menerjemahkan mimpi-mimpi tentang awan panas, lelehan lahar di Puncak Merapi, dan jerit tangis dalam tari, aku hanya berharap sunyi segera menghentikan segala kekacauan ini. Ah, haruskah kuhadapi kematian dengan menari serimpi?Tak ada jawaban. Hanya jerit gamelan. Hanya jerit kesakitan. * Semarang, 2002***Catatan: 1) ”Tegak lurus dengan langit” adalah ungkapan khas Iwan Simatupang. 2) Dikutip dari ungkapan Sindhunata dalam Cikar Bobrok. 3) Kata-kata yang diungkapkan Ki Sitras Anjilin, dalang dari Desa Tutup Ngisor, saat memainkan lakon Kunjarakarna. 4) Trisik, mangenjali, ngigel adalah nama dalam gerakan tari Jawa. 5) Mitologi gajah dan beringin putih pernah digarap Elizabeth D Prasetyo dalam The White Banyan.           


Sabtu, 10 Mei 2014

HARUSKAH BERAKHIR



Haruskah berakhir
Cinta yang telah lama
ku rangkai, ku jaga, ku pelihara
sialan.. tapi itu harus
Jika aku ingin maju
jika aku ingin menjadi
aku yang sesungguhnya


                                                      cianjur, desember 2013


LULUN SAMAK



“tah cup kadenge teu eta?”
“heeh, jiga sora nu...”
Teu lila, aya abringan nu keur mawa pasaran liwat harepeun imah.
“innalillahi wa innalillahi roji’un..” ceuk kuring bareng jeung si ucup.
“tuh heeh aya nu maot cup! Aya nu maot!”
“heeh buru urang indit, urang milu nguburkeun!
Bring! Kuring jeung si ucup milu indit ka ciseuti jeung eta abringan, tempatna teu jauh ti imah kuring tadi. Pedah, rada nanjak hungkul ari ka ciseuti mah. Pas nepi, langit teh teu ujug-ujug jadi angkeub, poek, jigana mah rek hujan gede. Padahal ieu teh karek jam satengah hiji jeung deuih tadi mah basa di imah keneh langit teh caang, sakitu panas poena, tapi naha ayeuna teu ujug-ujug jadi poek?
Kuring buru-buru nyampeurkeun pak RT, kabeneran manehna ge milu nguburkeun. Lain sieun nyampeurkeun pak RT teh, kuring rek nginjem terpal, supaya ke mun hujan eta kuburna teu ka basehan, bisa ka iuhan ku eta terpal. Geus menta idin, kuring langsung indit ka imah pak RT, mawa eta terpal. Geus meunang, indit deui ka makam, tuluy buru-buru dipasangkeun.
Nyaan, teu lila saenggeus beres masangkeun eta terpal. Breg teh hujan gede, bari jeung angin-anginan deuih. Untung we geus dipasangan terpal, nu dipasang jiga tenda ngan nutup bagian luhurna hungkul, henteu jeung gigirna da hese. Jadi teu kahujanan, ngan kasaweran hungkul, ngan sarua we jeung nu kahujanan da ku angin tea katiup-tiup, baju weh baraseuh.
Beres weh ngurebkeun mayit teh, kuring jeung si ucup mantuan beberes. Kuring mah mawa terpal nu tadi tea, da kuring nu nginjeum na. Si ucup mah mawa pacul nu bapana, karunya meren bisi capeeun tas ngagali makam. Nya warga nu lain ge sarua, marawaan deui pakakas urut ngurebkeun eta mayit.
Ngan pas meresan karanda, pan dipanggul. Tah angin teh ngagedean, nepi bisa muragkeun tutup karanda nu keur dipanggul eta. Atuh eta samak teh katiup angin, seseleberan jiga nu ngapung. Murag weh ka wahangan, nu keur caah gede, palid weh. Da rek dibawa deui menya kudu ngorbankeun nyawa ngan jang mawa samak eta, meuli deui ge murah atuh ari samak paragi mayit anu dijieun tina anyaman daun pandan mah. Tapi, anu jadi kasieun arurang nu di darinya teh, sieun mitos anu aya di kampung urang teh kajadian. Ah baralik weh, da eta mah ngan mitos moal heg jadi kajadian meren.
Kaisukannana, isuk-isuk kuring indit ka garduh, rek ngumpul jeung barudak. Biasa da didinya teh sok dijieun basecamp (tempat kumpul) atawa markas lah mun ceuk urang tea mah, pokona barudak teh sok raresep kumpul didarinya. Teu beurang teu peuting sok rarame wae. Pas nepi, can aya sasaha, kaisukan meren kuring indit teh. Teuing da teu paham boga baturan teh sarena jiga nu maot wae, hese hudang, jeung mun hudang ge sok beurang wae.
Indit heula kuring teh kawarung,  rek meuli kopi jeung udud. Beres meuli kuring balik deui ka garduh, ngalamun weh sorangan, lepus udud, suruput cikopi.
“eh, Kang Agus bade kamana?” kuring ngageroan pa RT nu keur liwat.
“eh jang Rahmat! Teu, ieu bade milarian ojeg, bade meser samak anyar, jang ngagantian samak kamari anu palid tea”.
“ohh, muhun atuh, tah eta si Maman sugan aya di bumina Kang, ari nuju milarian ojeg mah”.
“enya jang, nuhun. Mangga ah tipayun..”
Leos weh indit eta pak RT teh, bieu ngobrol jeung pak RT jadi kapikiran ngeunaan soal mitos samak tea. Sieun aya kajadian nanaon, pasti baheula ge pernah aya kajadian nu siga kieu, matak ayeuna aya mitos na oge, meren.
“eh met tong bengong wae!” si ucup nepak urang.
“alah siah! Ngareureuwas maneh!”
“nya hampura atuh met, atuda maneh ngan ngalamun wae jiga nu keur galau. Putus lin jeung si Eha?”
“naha jadi kadinya, lain cup kuring teh kapikiran masalah nu kamari euy, masalah samak palid.”
“naha kunaon deuih atuh make dipikiran, teu pira samak mah bisa meuli deui.”
“lain ku kituna, masalah mitos na euy cup.”
Si ucup rada ngahuleng heula, teuing mikiran naon.
“mitos? Mitos naon ieu teh met?”
“sugan teh apal matak ngahuleng heula teh. Jadi kieu cenah cup, ceuk beja, baheula teh, aya kajadian anu sarua persis jiga kajadian samak palid kamari. Ngan teuing di kampung mana. Tah, geus kajadian eta, aya awewe nu mandi di eta walungan tuluy ngaleungit.”
“ah nu bener maneh met? Tong nyingsieunan atuh..”
“yehh.. cik dengekeun heula atuh. Teuing kunaon eta awewe teh ujug-ujug leungit, da cenah mah samemeh ngaleungit eta awewe teh gogorowokan “tulung! Tulung! Aya nu medol!” pas kitu aya pak tani, ningali eta awewe teh sukuna keur dilulun ku samak, langsung lumpat eta pak tani teh nyampeurkeun eta awewe, niat mah rek nulungan ngan teu kaburu. Kaburu kabawa ka tengah wahangan nu jero. Si pak tani eta pan sieun langsung brebet lumpat balik ka imah pak lurah nu didinya, jeung ngabejakeun yen aya awewe nu leungit di walungan. Langsung pak lurah teh, ngumpulkeun kabeh warga kecuali kolot eta awewe, rek neangan eta awewe, sugan we hirup keneh. Na da eta mah, geus tepi di walungan teh eweuh eta awewe teh!”
“eweuh kamana met?” bari ngadekeutan kuring diukna.
“heeh teuing nyaeta, teuing kamana, da mun heeh maot ge pasti awakna mah aya meren? Mun palid ge da teu mungkin jauh jeung keur teu caah deuih. Tapi teuing eta awewe teh teu ujug-ujug ngaleungit teuing kamana”.
“ah maneh mah rek nyingsieunan urang nya ?”
“astagfirullah.. lain cup, eta teh kajadian baheula, cenah. Jadi kuring teh kapikiran mitos eta”
“heeh tuluy kumaha eta saenggeus ngaleungit kitu?”
“nya saenggeus kajadian eta teh, tiap-tiap lalaki nu ngojay ka eta wahangan sore-sore, liwat ti jam opatan, sok aya nu medol oge jiga kajadian nu awew tadi, nya kadang salamet kadang milu palid. Komo lamun pas keur jum’atan mah, eta lalaki mun ngojay didinya, geus moal bisa salamet!. Tapi eta kajadian teh ngan bakal ka lalaki hungkul, soalna cenah eta awewe nu ngaleungit eta teh jadi ngahiji jeung eta samak, teuing ngahiji di dahar ku samak teuing kumaha. Tah ku sabab samak eta sok, ngalulun suku jeung medolan batur tepi ka tengah walungan, jadi disebutna lulun samak”.
“jadi sieun ngojay di wahangan deui urang mat euy”.
“nya teu kitu oge meren cup, ngojay mah bae ngan ati-ati mah perlu. Geus ah, urang rek balik heula nya, mantuan ngala suluh euy keur di imah.”
“kela kela.. eta carita teh bener?”
“nya teuing atuh, kumaha maneh we rek percaya atawa henteu oge. Hayu ah, assalamualaikum!”
“kela met, tungguan.. urang milu!”

TAK BERSAMAKU



Melihatmu
melihat senyum itu
senyum yang berikan aku
hidup
Melihatmu
melihat tangis itu
tangis yang berikan aku
pedih
Aku ingin kau tersenyum sayang
bersamaku
namun, yang kulakukan membuatmu
menangis
Maafkan aku
tubuhku penuh duri
inginku pelukmu
tak mungkin
Maaf, aku hanya ingin kau bahagia
Aku pergi, tak meninggalkanmu
aku ada, tak disisimu
aku ingin melihatmu
melihat senyum itu
tanpa ada tangis
di wajahmu
meski itu,
tak bersamaku

Pagelaran, 10 mei 2014

Senin, 08 Juli 2013

Hadiah darimu sayang !


Aku mencintaimu,
sungguh! Aku sangat mencintaimu
tapi apa yang kudapatkan dari hal itu?
satu hadiah yang kau berikan
sebuah kebohongan
Kau pergi dengannya
meninggalkan sebuah kebohongan untukku
mungkin aku dapat mengerti, tapi mengapa?
tapi kemudian kau berikanku lagi satu hadiah
sebuah alasan
Alasan itu,
yang mengharuskan aku merelakanmu,
alasan itu,
yang tak pernah dan takkan pernah bisa ku mengerti
namun, kucoba pahami
meskipun ku tak mengerti, ku coba pahami
tak sempat ku bertanya,
lalu kemudian kau berikanku lagi satu hadiah
sebuah kata
Hanya sebuah kata,
sebuah kata sakral yang memaksaku,
menjauhkan aku darimu,
membunuhku..

Dimana kau? Temann..


Dimana kau? Teman..
disaat aku dikendalikan kebodohanku
disaat aku melakukan kesalahan
yang mungkin ‘kan buat kau terluka
Maafkan aku teman
maaf atas kebodohanku
kesalahanku
sifatku
yang mungkin selalu menyakitimu
Namun, tetap ku masih bertanya
dimana kau? Teman...
selalu ku berharap kau dapat menemaniku
mengendalikan aku atas sifat burukku
menjauhkan aku dari kesepian yang selalu menghantuiku
Tak pantaskah aku menjadi temanmu?

*) Oleh Andri rahmat Zatnika

ANDAI KAU TAHU

andai kau tahu
andai kau mengerti
andai kau merasakan apa yang ku rasa,
saat itu

perih luka menyayat hati
ku coba mengerti, ku coba pahami
tentangmu, tentangku, tentang kita, tentang takdir
dan tentang keadaan yang mengharuskan kita untuk berpisah
Namun, ternyata keadaan telah menipuku
menipu kita
tapi tak menipumu
karena, kau lah keadaan itu
ini yang kau inginkan
ini yang kau harapkan
ini yang mungkin ‘kan buat kau bahagia
tanpaku
pergi
selamanya


Cianjur, 26 Mei 2012